-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemilihan:Urutan Keselamatan (Ordo Salutis)

Senin, 09 Februari 2026 | Februari 09, 2026 WIB Last Updated 2026-02-09T17:26:00Z

Beny Takumau 


Bagian 1

Pemilihan 

Dalam seri pengenalan Doktrin keselamatan dalam artikel sebelumnya,kita telah membahas bahwa keselamatan memiliki urutan yang sistematis dalam karya Allah, yang dalam teologi disebut ordo salutis:“urutan keselamatan.” Ordo salutis bukan hanya istilah akademis, tetapi cara untuk memahami bagaimana Allah bekerja dari awal sampai akhir untuk menyelamatkan manusia: dari Allah memilih siapa yang diselamatkan sampai Allah memahkotai dengan kemuliaan kepada Umat Pilihan-Nya


Dari pembahasan itu, kita bisa menyimpulkan satu hal penting: keselamatan dimulai dari inisiatif Allah, bukan dari manusia. Sebelum manusia mampu menanggapi atau berespos, sebelum ada iman dan pertobatan, Allah lebih dulu bekerja; Ia yang menginisiasi keselamatan dan menetapkan rencana-Nya sejak kekekalan.



Dalam seri pengenalan, kita menyinggung setiap bagian secara garis besar, dan bagian ini kita menyoroti secara lebih mendalam Bagian Pertama dari sepuluh bagian ordo salutis, yaitu Pemilihan. 



Doktrin Pemilihan menegaskan fakta bahwa sebelum manusia merespons, Allah lebih dahulu memilih siapa yang akan menjadi umat-Nya. Doktrin Pemilihan bukan sekedar doktrin tambahan,bukan juga hiasan teologis, tetapi Doktrin ini merupakan fondasi dari seluruh karya keselamatan,



Dengan pemahaman ini, kita siap memasuki pembahasan inti: bagaimana Alkitab menegaskan pemilihan, apa konsekuensi teologisnya, bagaimana keberatan umum dipahami dan dijawab, serta bagaimana pemilihan itu relevan bagi iman kita sehari-hari.


Rasul Paulus menuliskannya dengan jelas:


“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya.”

(Efesus 1:4)


Konteks Efesus Pasal 1 adalah pujian Paulus atas karya keselamatan Allah dari awal sampai akhir. Di bagian ini Paulus tidak sedang berdebat, tapi menyembah. Bagain ini muncul dalam suasana doksologis, sebagai alasan untuk memuliakan Allah, bukan sebagai bahan spekulasi. Perhatikan juga urutannya: dipilih lebih dulu, supaya menjadi kudus, bukan menjadi kudus dulu baru dipilih. Kekudusan adalah tujuan pemilihan, bukan syarat pemilihan



Hal yg sama ditegaskan Rasu Paulus lebih tajam dalam Roma 9:


“Sebab waktu anak-anak itu belum lahir dan belum melakukan yang baik atau yang jahat—supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya.”

(Roma 9:11)


Konteks Roma 9, Paulus menjawab pertanyaan besar tentang kedaulatan Allah dalam sejarah keselamatan. Rasul Paulus menekankan bahwa keputusan Allah dinyatakan bahkan sebelum Yakub dan Esau melakukan apa pun, supaya jelas bahwa pemilihan berdiri di atas kasih karunia, bukan pada kualitas manusia.



Bagian ini biasanya memunculkan diskusi bahkan perdebatan teologis. Sebagian pandangan menjelaskan pemilihan sebagai pemilihan berdasarkan iman yang telah Allah ketahui sebelumnya (foreseen faith). Dengan pendekatan ini, Allah memilih seseorang karena Ia “melihat” lebih dahulu siapa yang akan percaya. Sekilas tampak mempertahankan kebebasan manusia, tetapi jika ditelaah secara logis, pendekatan ini memiliki konsekuensi serius:


👉Allah bukan lagi inisiator keselamatan. Jika pemilihan bergantung pada keputusan manusia, maka Allah hanya menunggu manusia menentukan diri mereka sendiri sebelum memilih. Dengan kata lain, inisiatif berpindah dari Allah ke manusia.


👉Kasih karunia Allah kehilangan maknanya. Pemilihan bukan lagi tindakan kasih karunia yang mendahului segalanya, melainkan semacam pengesahan ilahi terhadap keputusan manusia. Keselamatan menjadi “retribusi” atas iman manusia, bukan hadiah gratis dari Allah.


👉Kedaulatan Allah dipertanyakan. Jika manusia menentukan siapa yang dipilih, Allah tidak lagi berdaulat sepenuhnya dalam keselamatan. Pemilihan menjadi parsial dan bergantung pada faktor manusia, sehingga kemuliaan karya Allah berkurang.


👉Respons manusia menjadi faktor penentu. Pendekatan ini secara logis menempatkan iman manusia sebagai penyebab utama keselamatan, bukan buah dari tindakan Allah. Padahal pemahaman alkitabiah menegaskan bahwa manusia hanya merespons kasih karunia yang Allah lebih dahulu gerakkan.

Dengan kata lain, jika kita menerima foreseen faith, logikanya: pemilihan Allah tidak lagi murni, kasih karunia-Nya tidak dominan, dan kedaulatan-Nya terbatas. Pendekatan ini jelas bertentangan dengan prinsip bahwa keselamatan adalah karya Allah dari awal sampai akhir.



Ada juga pendekatan lain yg memahami pemilihan hanya bersifat kolektif, Beberapa teolog memahami pemilihan sebagai pemilihan kelompok orang percaya, sementara individu menentukan sendiri apakah masuk kelompok itu. pendekatan ini menimbulkan pertanyaan kritis: jika dua orang mendengar Injil yang sama, mengapa satu percaya dan yang lain tidak? Jika pembeda hanya respons manusia, maka kasih karunia Allah tidak lagi menjadi faktor utama.Sedikit berbeda dari pendekatan foreseen faith adalah fokusnya pada kelompok, bukan individu, tapi konsekuensi logisnya sama: faktor penentu terakhir tetap manusia, bukan Allah.



Alkitab justru terus mengaitkan pemilihan dengan kasih Allah yg aktif:


“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya…”

(Efesus 1:5)



Doktrin Pemilihan bukan keputusan formal yg kaku, tetapi keputusan relasional. Allah memilih untuk memiliki umat-Nya, mengangkat mereka menjadi anak-anak, dan memulihkan relasi yang rusak oleh dosa. Karena itu, doktrin pemilihan seharusnya membuat kita semakin mencintai Allah, karena keselamatan ini berakar pada kasih dan relasi pribadi dengan-Nya, bukan sekadar aturan atau mekanisme.




Setelah memahami masalah konseptual ini, mari kita membahas beberapa keberatan umum terkait doktrin pemilihan, bagaimana Alkitab menjawabnya, dan bagaimana pemahaman ini mempengaruhi iman dan pengharapan orang percaya. Keberatan-keberatan itu mencakup isu keadilan Allah, relevansi penginjilan, peran iman dan pertobatan, hingga risiko kesombongan rohan




👉Keberatan pertama: “Kalau Allah memilih, berarti Allah tidak adil.”

Pertanyaan ini muncul secara alami ketika manusia mencoba memahami pemilihan. Rasanya sulit diterima bahwa Allah bisa memilih sebagian orang untuk keselamatan sementara yang lain tidak, sehingga muncul anggapan: apakah Allah pilih-pilih, dan apakah itu adil?

Paulus sudah menanggapi keberatan ini dengan tegas:


“Jika demikian, apakah yg hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Sekali-kali tidak!”

(Roma 9:14)


Konteks Roma 9 penting. Paulus sedang membahas kedaulatan Allah dalam sejarah keselamatan,mengapa sebagian orang Israel percaya sementara yang lain tidak. Paulus menegaskan bahwa pertanyaan soal keadilan Allah muncul dari sudut pandang manusia. Manusia cenderung mengukur keadilan dengan standar hak atau usaha, sedangkan Alkitab menegaskan bahwa semua manusia telah jatuh dalam dosa:


“Tidak ada seorang pun yang benar, tidak seorang pun.”

(Roma 3:10)


Karena itu, jika Allah menyelamatkan sebagian orang, itu adalah kasih karunia,memberikan keselamatan bukan karena hak atau usaha manusia, tetapi karena belas kasihan Allah. Sebaliknya, jika Allah menghukum orang berdosa, itu adalah keadilan, karena dosa membawa konsekuensi.



Satu Analogi sederhana: seseorang pergi ke pasar dan melihat beberapa pengemis. Ia memberi uang kepada salah satu pengemis, tetapi tidak kepada yg beberapa, maka apakah tindakan memberi itu tidak adil? ,Tentu Tidak. Ia tidak berkewajiban memberikan kepada semua, dan pemberian itu adalah kasih karunia bagi yang menerima. Begitu pula Allah: pemilihan-Nya adalah pemberian kasih karunia, bukan pelanggaran keadilan.

Belas kasihan dan keadilan justru bertemu dalam harmoni sempurna di dalam sifat Allah.”

Maka konteks ini, keberatan soal ketidakadilan tidak berdasar pada realitas Alkitab. Pemilihan justru menunjukkan keadilan dan kasih Allah secara bersamaan: keadilan ditegakkan terhadap dosa, sementara kasih karunia dinyatakan bagi mereka yang dipilih.




👉Keberatan kedua mengatakan bahwa jika Allah sudah memilih, maka iman dan pertobatan tidak diperlukan. Namun Alkitab justru menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menetapkan tujuan keselamatan, tetapi juga sarana melalui mana keselamatan itu terjadi,yaitu pemberitaan Injil, panggilan, pertobatan, dan iman.


Paulus menegaskannya:


“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga yg dipanggil-Nya. Dan mereka yg dipanggil-Nya, mereka itu juga yg dibenarkan-Nya…”

(Roma 8:30)


Konteks Roma 8 adalah kepastian keselamatan orang percaya. Di sini terlihat jelas urutan karya Allah: yang 👉ditentukan 👉dipanggil 👉dibenarkan. Pembenaran terjadi melalui iman, sehingga panggilan Allah bukan sekadar undangan kosong, tetapi karya Allah yg menghasilkan respons nyata dalam diri manusia.

Hal yg sama ditegaskan dalam pemberitaan Injil:


“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

(Roma 10:17)


Konteks Roma 10 berbicara tentang pentingnya pemberitaan Injil. Paulus justru menekankan bahwa karena Allah menyelamatkan, maka Injil harus diberitakan. Allah yang memilih juga menetapkan bahwa manusia datang kepada iman melalui pendengaran firman, bukan tanpa proses. Dengan demikian, pemilihan tidak meniadakan iman dan pertobatan, tetapi menjelaskan mengapa melalui pemberitaan Injil itu ada orang yg benar-benar percaya,karena Allah bekerja di dalamnya.


Yesus sendiri menyatakan:


“Semua yg diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku…”

(Yohanes 6:37)


Dalam konteks Yohanes 6, Yesus menjelaskan mengapa tidak semua orang merespons ajaran-Nya dengan iman. Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa mereka yg diberikan Bapa kepada-Nya akan datang, artinya mereka tetap datang secara nyata, percaya secara nyata, dan mengikuti secara nyata. Maka Pemilihan tidak menggantikan respons manusia, tetapi memastikan bahwa respons itu benar-benar terjadi.


Karena itu, keberatan bahwa pemilihan membuat iman tidak diperlukan sebenarnya muncul dari pemisahan yang tidak alkitabiah antara keputusan Allah dan proses yang Allah tetapkan. Alkitab justru menunjukkan keduanya berjalan bersama: Allah memilih, dan melalui panggilan Injil Ia menuntun manusia kepada iman dan pertobatan.



👉Keberatan ketiga: “Jika Allah sudah memilih, maka penginjilan tidak perlu.”

Alkitab justru menunjukkan kebalikannya: Allah yang menetapkan siapa yang diselamatkan, juga menetapkan bagaimana mereka diselamatkan, yaitu melalui pemberitaan Injil. Tujuan dan sarana tidak pernah dipisahkan.

Yesus sendiri memberi perintah langsung:


“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…”

(Matius 28:19)


Perintah ini diberikan setelah kebangkitan, ketika Yesus menyatakan bahwa segala kuasa telah diberikan kepada-Nya (Mat. 28:18). Artinya, justru karena Kristus berdaulat, penginjilan dilakukan dengan keyakinan bahwa pemberitaan Injil tidak sia-sia. Kedaulatan Allah bukan alasan untuk berhenti memberitakan Injil, tetapi dasar keberanian untuk melakukannya.

Paulus menjelaskan hubungan antara pemberitaan Injil dan iman dengan sangat jelas:


“Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?”

(Roma 10:14)


Konteks Roma 10 menekankan bahwa iman tidak muncul secara otomatis, tetapi melalui pendengaran Injil. Allah menetapkan bahwa orang-orang yang diselamatkan akan mendengar Injil melalui pemberitaan manusia. Dengan demikian, penginjilan bukan alternatif, melainkan sarana yang Allah tetapkan sendiri.

Karena itu, ketika Tuhan berkata kepada Paulus:


“Sebab banyak umat-Ku di kota ini.”

(Kisah Para Rasul 18:10)


Pernyataan ini diberikan sebelum mereka percaya. Secara konteks, Paulus saat itu sedang menghadapi tekanan dan penolakan, dan Tuhan menguatkannya agar tetap tinggal dan memberitakan Injil. Artinya, keberadaan “umat-Ku” bukan membuat Paulus berhenti menginjil, tetapi justru menjadi alasan ia terus memberitakan Injil dengan keberanian, karena Allah sudah memiliki orang-orang yang akan merespons pemberitaan itu.

Di sinilah Kelimpahan pengertian alkitab terlihat jelas: pemilihan tidak meniadakan penginjilan, tetapi menjamin bahwa penginjilan tidak akan sia-sia. Allah yang memilih juga bekerja melalui pemberitaan Injil untuk memanggil orang-orang kepada keselamatan, sehingga setiap pemberitaan Injil menjadi bagian dari rencana keselamatan yang Allah sendiri tetapkan.



👉Keberatan keempat: “Doktrin pemilihan membuat orang menjadi sombong karena merasa terpilih.”Beberapa orang beranggapan bahwa jika seseorang percaya bahwa Allah telah memilihnya sejak kekekalan, ia bisa merasa lebih istimewa atau lebih “rohani” daripada orang lain. Namun Alkitab menegaskan bahwa pemilihan justru menghancurkan kesombongan rohani karena keselamatan sepenuhnya adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia.


Paulus menekankan prinsip ini:

“Bukan karena orang yang mau atau orang yang berlari, tetapi karena belas kasihan Allah.”

(Roma 9:16)

Konteks Roma 9 adalah penekanan pada kedaulatan Allah dalam keselamatan. Paulus menegaskan bahwa manusia tidak punya alasan untuk membanggakan diri karena keselamatan bukan hak atau pencapaian pribadi, tetapi pemberian gratis dari Allah.


Tuhan Yesus juga mengajarkan hal yang sama melalui analogi tentang upah:

“Setiap orang yang diterima hanya menerima upah yang sama, yaitu anugerah.”

(Matius 20:1-16, perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur)

Di sini, semua pekerja,baik yang bekerja lama maupun baru beberapa jam,menerima upah yang sama. 

Perumpamaan itu jelas: upah bukan berdasarkan lama atau kerasnya usaha manusia, tetapi semata-mata berdasarkan kasih karunia tuan kebun. Tidak ada yang bisa merasa lebih hebat karena “lebih lama bekerja” atau “lebih berusaha mencari Allah.”


Misalkan kamu sedang sangat haus di tengah padang pasir, dan seseorang datang memberi kamu air minum segar. Apakah kamu akan berkata, “Aku pantas mendapatkannya karena aku lebih pintar atau lebih rajin? Tentu tidak. Air itu diberikan secara cuma-cuma untuk menolongmu.

Demikian juga dengan keselamatan dan pemilihan Allah: keselamatan adalah pemberian, bukan hasil usaha manusia. Reaksi yang tepat bukan kesombongan, tetapi syukur yang tulus.


Charles Spurgeon seorang Teolog 

Pernah berkata:

“Jika seorang percaya menganggap keselamatannya karena kecerdasannya, kerajinan, atau kesalehannya, ia menipu dirinya sendiri. Seluruh alasan keselamatan adalah kasih karunia Allah; tidak ada tempat bagi kesombongan manusia.”


Dengan demikian, keberatan bahwa pemilihan menimbulkan kesombongan rohani tidak berdasar. Pemilihan justru menegaskan ketergantungan penuh manusia pada kasih karunia Allah, sehingga respons alami yang paling sesuai adalah syukur, bukan kebanggaan.


Dan akhirnya, pemilihan bukan diberikan untuk memuaskan rasa ingin tahu spekulatif tentang siapa yg dipilih dan siapa yg tidak, tetapi untuk memastikan bahwa keselamatan benar-benar adalah karya Allah dari awal sampai akhir. 


Doktrin ini mengajarkan bahwa iman orang percaya tidak dimulai dari kekuatan manusia mencari Allah, tetapi dari fakta bahwa Allah lebih dahulu mencari dan memilih.


Karna keputusan Allah dalam kekekalan itu tidak berhenti sebagai ketetapan tersembunyi. Apa yg telah Allah tentukan, Ia nyatakan dalam sejarah hidup manusia melalui tindakan nyata-Nya. Karena itu, setelah memahami pemilihan, langkah berikutnya adalah melihat bagaimana keputusan tersebut menjadi pengalaman nyata dalam hidup orang percaya,ketika Allah memanggil manusia melalui Injil dan karya Roh Kudus sehingga ia benar-benar datang kepada Kristus.


Pada seri selanjutnya kita akan masuk ke Bagian Kedua: Panggilan.


Soli Deo Gloria 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update