-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pelayanan di Era AI

Rabu, 28 Januari 2026 | Januari 28, 2026 WIB Last Updated 2026-01-28T18:21:12Z





Beny Takumau 


Dari Persekutuan ke Pelayanan di Era AI



Beberapa waktu lalu saya melihat ada postingan di FB tutorial tentang cara membuat khotbah dengan bantuan AI. Hasilnya memang rapi, terstruktur, dan terlihat meyakinkan. AI mampu membantu menyusun kalimat, merapikan alur, bahkan menghubungkan ayat demi ayat dengan logis. Saya pun ada dalam realitas ini, karena dalam proses menulis, AI juga saya gunakan. 


Namun pengalaman ini justru menyadarkan saya akan satu hal: tanpa pergumulan, tanpa perenungan, dan tanpa perjumpaan pribadi dengan Tuhan, tulisan rohani mudah berubah menjadi “sekadar” rangkaian kata yang rapi. Dan di sini AI tidak perlu diposisikan sebagai lawan. AI hanyalah alat bantu. Yang tidak tergantikan adalah relasi, pengalaman iman, dan kejujuran hati di hadapan Tuhan.


Dan dalam Tulisan ini mari kita soroti bagian ini sebagai bahan refleksi bersama,bahwa tulisan rohani,ataupun teks khotbah terlebih dahulu harus lahir dari persekutuan dengan Tuhan,yakni melalui perenungan mendalam, pergumulan pribadi,doa, dan proses berpikir yang sungguh-sungguh,baru kemudian dirapikan dalam struktur bahkan menggunakan AI sebagai alat bantu.



Kitab Suci secara konsisten menunjukkan satu pola yang justru terbalik dengan penerapan praktik iman modern. 

Pola Alkitab : persekutuan selalu mendahului pelayanan,ada kedekatan relasi baru di utus menjadi alat pelayanan, Analogi sederhananya ibarat gunung es, pelayanan hanyalah bagian yang terlihat di permukaan, sementara persekutuan adalah bagian besar yang tersembunyi di dalam. Tanpa bagian yang tenggelam itu, yang tampak di atas mudah runtuh.



Ketika Allah memanggil Musa di Gunung Sinai, bangsa Israel memilih menjaga jarak. Mereka melihat asap, api, dan suara, lalu mundur. Mereka meminta Musa saja yang berbicara dengan Allah. Namun kepada Musa, Allah berkata lain:

“Naiklah menghadap Aku ke gunung ini dan tinggallah di sana” 

 (Kel. 24:12).“TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Naiklah menghadap Aku ke gunung itu dan tinggallah di sana; maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu dengan hukum dan perintah yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka.’”

Penekanan ayat ini bukan pertama-tama pada loh batu yang akan diberikan, melainkan pada perintah untuk tinggal. 


Kitab suci versi KJV tertulis: “Come up to me into the mount, and be there.” Dalam versi lainya NIV: “Come up to me on the mountain and stay here.”

Ungkapan be there dan stay here menekankan satu hal sederhana tetapi dalam: Musa diminta datang dan tidak pergi. Dalam teks Ibrani digunakan ungkapan we-hyeh sham, yang berarti “tinggallah di sana.” Ini bukan kunjungan singkat, tetapi panggilan untuk hadir dan menetap bersama Allah. Tugas yang dipercayakan lahir dari kehadiran dan relasi dengan Tuhan , bukan sebaliknya.


Pola yang sama muncul dengan jelas dalam Injil Markus. Ketika Yesus memanggil murid-murid, Ia tidak langsung berbicara tentang pelayanan. Markus mencatat:

Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia”

 (Mrk. 3:14).“Ia naik ke gunung dan memanggil mereka yang dikehendaki-Nya. Mereka datang kepada-Nya, lalu Ia menetapkan dua belas orang, supaya mereka menyertai Dia dan supaya Ia mengutus mereka memberitakan Injil.”


Teks Yunani Mrk 3:14 (menyertai)

ἵνα ὦσιν μετ’ αὐτοῦ

(hina ōsin met’ autou)

Penjelasan singkat:

ἵνα (hina) 👉supaya / agar

ὦσιν (ōsin) 👉mereka ada / mereka hidup

μετ’ αὐτοῦ (met’ autou) 👉bersama Dia

Secara harfiah berarti:

“supaya mereka hidup bersama Dia.”

Kata “menyertai” di sini berarti bersama-sama, hidup bersama, berjalan bersama, makan bersama, dan belajar dalam ketaatan. Pada zaman itu, menjadi murid berarti meninggalkan kehidupan lama dan mengikatkan diri sepenuhnya pada sang Guru. Petrus, misalnya, meninggalkan perahu dan profesinya sebagai nelayan ketika ia dipanggil demikian juga murid-murid yang lain.

Namun hal ini tidak berarti bahwa setiap orang percaya pada masa kini harus meninggalkan pekerjaan atau mengundurkan diri dari profesinya. Poin utamanya bukan pada perubahan pekerjaan, melainkan pada perubahan pusat hidup.

Petrus tidak sekadar berhenti menjadi nelayan; ia berhenti menjadikan profesinya sebagai arah dan penentu hidupnya. Sejak saat itu, hidupnya diarahkan oleh panggilan Kristus. Dalam konteks inilah kita diajak bergumul dan meminta hikmat, agar mengenali talenta dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita, serta belajar menjalani semuanya dalam ketaatan kepada-Nya.

Dalam teks Markus 3:14 kita juga melihat bahwa sebelum murid-murid di utus memberitakan Injil terlebih dahulu mereka di panggil ada dalam relasi,pengenalan dengan Kristus.


Dietrich Bonhoeffer adalah teolog Lutheran Jerman yang hidup pada masa Nazi dan dikenal karena penekanannya pada pemuridan yang taat,Ia akhirnya dihukum mati karena kesetiaannya pada Kristus dan penolakannya terhadap kejahatan yang dilegalkan negara. Dalam bukunya The Cost of Discipleship, ia menulis dengan sangat tajam:

“When Christ calls a man, he bids him come and die.”

(Ketika Kristus memanggil seseorang, Ia memanggilnya untuk datang dan mati.)


Kutipan Ini sejalan dengan makna “menyertai” dalam Injil Markus,Mengikuti Kristus berarti mau dekat dan tinggal bersama Tuhan apapun keadaannya.Sama seperti Musa dipanggil naik ke gunung dan tinggal di sana sesuai perintah Tuhan, bukan berdasarkan jadwalnya sendiri. Dalam Injil Markus pola yang sama berlaku bagi murid-murid yang dipanggil untuk hadir berjalan bersama Kristus dan taat.

Baru setelah itu ada pengutusan. Pelayanan seharusnya adalah luapan dari persekutuan yang lebih dulu dibangun dengan Tuhan.Tanpa persekutuan, pelayanan mudah berubah “sekedar” rutinitas religius. Dengan persekutuan, pelayanan lahir secara alami, bukan karena dikejar, tetapi karena hidup yang tenggelam dalam hadirat Allah dan pada waktunya akan tampak ke permukaan.

Allah tidak berubah. Ia masih memanggil manusia untuk mendekat, tinggal, bersekutu,berelasi dengan-Nya. 



Pertanyaannya bukan apakah kita bisa melayani dengan baik, atau apakah kita dibantu oleh teknologi yang canggih, tetapi apakah kita bersedia taat untuk tinggal bersama-Nya terlebih dahulu?.



Soli Deo Gloria 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update