Banyak orang, termasuk saya dulu, memahami biji sesawi sebagai sayur sawi yang biasa ada di dapur. Gambaran ini ternyata tdk tepat jika dipakai untuk memahami perumpamaan Yesus dalam Injil Markus. Sesawi yang dimaksud Yesus adalah tanaman mustard, sesawi liar, yang bijinya sangat kecil namun memiliki daya tumbuh yang luar biasa.
Pada zaman Yesus, sesawi adalah tanaman yang akrab dengan kehidupan rakyat kecil. Daunnya dapat dimakan sebagai sayur sederhana. Bijinya dipakai sebagai bumbu dan juga sebagai obat tradisional untuk menghangatkan tubuh. Tanaman ini merupakan tanaman liar biasa yg juga ada manfaatnya, Di sini Yesus memakai nya sebagai Perumpamaan. Kerajaan Allah digambarkan bukan lewat simbol megah, melainkan lewat sesuatu yang biasa, namun berguna, tapi sering diremehkan.
Secara botani, sesawi memiliki ciri yang menarik. Bijinya sangat kecil, hampir tak seberapa di tangan. Batangnya tdk berkayu keras, tetapi lunak. Sesawi adalah tanaman semusim. Namun bila dibiarkan tumbuh, sesawi dapat mencapai ketinggian dua sampai empat meter, bercabang lebat, dan dari kejauhan tampak seperti pohon kecil. Burung-burung dapat hinggap dan berlindung di sana. Di Yesus tdk sedang mengajar ilmu tanaman, tetapi Ia memakai realitas ini untuk menyampaikan kebenaran yang mudah dipahami pendengar-Nya saat itu,
Markus 4:30-32 Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?
Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi.
Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya."
Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi. Dimulai dari sesuatu yang paling kecil, lalu bertumbuh menjadi besar. Pesan ini, pertama-tama, adalah penguatan. Jangan kecil hati dengan permulaan yang sederhana, dengan pelayanan yang belum terlihat, atau dengan ketaatan yang tdk disorot orang. Dalam Kerajaan Allah, yang kecil tdk identik dengan kegagalan. Justru dari hal-hal yang kecil itulah Allah sering memulai pekerjaan-Nya.
Namun Yesus tdk berhenti pada soal pertumbuhan. Ia menyebut bahwa sesawi yang tumbuh besar itu menjadi tempat burung-burung bersarang. Artinya, pertumbuhan itu menghasilkan manfaat. Ia tdk besar untuk dirinya sendiri. Ia besar agar kehidupan lain bisa berteduh. Di sinilah ukuran rohani mulai terlihat, bukan pada tinggi atau luasnya, melainkan pada buah dan dampaknya.
Di titik inilah kita melihat adanya pola yang serupa antara perumpamaan Yesus dalam Injil Markus dan penglihatan Nebukadnezar dalam kitab Daniel. Dalam kedua teks tersebut, gambaran pohon atau tanaman yang bertumbuh selalu diikuti oleh hadirnya kehidupan lain di sekitarnya. Ada burung yang bersarang, ada makhluk yang bernaung, ada manfaat yang dirasakan oleh banyak pihak. Pola ini tdk muncul secara kebetulan. Inilah yang disebut Alusi, yaitu ketika suatu gambaran dipakai kembali untuk mengingatkan pembaca pada makna yang sudah lebih dahulu dikenal.Namun, sekalipun polanya serupa, arah pertumbuhannya berbeda. Dalam Injil Markus, sesawi bertumbuh karena ia ditanam dan hidup sesuai kehendak Penanamnya. Pertumbuhannya membawa kehidupan bagi yang lain. Sebaliknya, dalam kitab Daniel, pohon itu membesar karena pusatnya adalah diri sendiri. Ia memang memberi naungan, tetapi kebesarannya akhirnya dipakai untuk memuliakan diri sendiri. Di sinilah perbedaannya menjadi jelas: yang satu bertumbuh untuk memberi hidup, yang lain membesar untuk meninggikan diri.
Dalam kitab Daniel diceritakan bahwa Nebukadnezar melihat sebuah pohon yang tumbuh sangat besar. Pohon itu kuat, menjulang tinggi, dan memberi makanan serta naungan bagi banyak makhluk (Dan. 4:11–12). Gambaran ini menunjukkan kebesaran dan pengaruh yang nyata, bahkan membawa kehidupan bagi yang lain. Namun Daniel kemudian menegaskan bahwa pohon itu melambangkan Nebukadnezar sendiri, seorang raja yang benar-benar telah menjadi besar dan berkuasa (Dan. 4:22). Masalahnya bukan pada kebesaran itu, melainkan pada arah hatinya. Ketika Nebukadnezar memandang semua yang ada sebagai hasil kekuatan dan kemuliaannya sendiri, terdengarlah perintah untuk menebang pohon itu (Dan. 4:14; bdk. 4:30). Pohon tersebut ditebang bukan karena ia gagal bertumbuh, tetapi karena kebesarannya dipakai untuk meninggikan diri, bukan untuk memuliakan Allah.
Di sinilah perbedaan besar antara sesawi dalam Injil Markus dan pohon dalam kitab Daniel. Keduanya sama-sama besar. Keduanya sama-sama memberi naungan. Keduanya sama-sama berada dalam ruang lingkup pekerjaan Allah. Namun yang satu bertumbuh karena ditanam, yang lain membesar karena membesarkan diri. Yang satu hidup bagi yang lain Supaya dari sana Tuhan dimuliakan, yang lain hidup bagi kemuliaan dirinya sendiri.
Ketika pelayanan dijalani dalam bentuk yang sederhana dan nyaris tdk terlihat, jangan berkecil hati. Tuhan bekerja melalui kesetiaan, bukan melalui kemegahan. Proses sering kali berlangsung diam-diam, jauh dari sorotan. Namun ketika pelayanan itu mulai dikenal atau mendapat ruang yang lebih luas, di situlah kewaspadaan dibutuhkan. Jangan sampai kesetiaan berubah menjadi ambisi, dan pertumbuhan bergeser menjadi kesombongan. Sebab apa yang lahir dari motivasi yang keliru, cepat atau lambat akan dipotong.
Dalam konteks itulah kita perlu jujur menilai diri. Banyak orang terlibat dalam pekerjaan Tuhan dengan aktivitas yang tampak serupa dan bahasa yang sama-sama rohani. Namun yang membedakan bukan seberapa sibuk atau terlihatnya pelayanan itu, melainkan motivasi hati di baliknya. Kerajaan Allah tdk diukur dari besarnya peran yang tampak di luar, tetapi dari ketulusan hidup yang sungguh diarahkan bagi kemuliaan Tuhan.
Kiranya refleksi ini menutup dengan satu kepekaan sederhana: Kerajaan Allah tdk diukur dari besar-kecilnya peran, melainkan dari arah hati. Saat masih kecil, kita dipanggil untuk setia tanpa minder, tdk mengukur nilai diri dari sorotan manusia. Saat bertumbuh dan mulai terlihat, kita dipanggil untuk tetap rendah hati, tdk menjadikan pengakuan sebagai sumber aman. Sesawi bertumbuh karena hidup, bukan karena ambisi. Pohon runtuh bukan karena ukurannya, tetapi karena lupa bahwa kebesaran adalah titipan. Karena itu, pertanyaan terakhir yg perlu kita jujuri di hadapan Tuhan adalah ini: apakah hidup dan pelayanan kita menghadirkan kehidupan bagi sesama, atau hanya memperbesar nama diri sendiri. Kerajaan Allah dibangun bukan oleh ambisi rohani, melainkan oleh hati yg mau tunduk dan setia sampai akhir.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yg baik dan memuliakan Bapamu yg di sorga.”
(Matius 5:16)
SOLI DEO GLORIA
Ambil Bagian dalam Pelayanan Ini
Jika tulisan-tulisan di blog ini memberkati Anda, kami membuka diri bagi Anda yang rindu mengambil bagian dalam mendukung pertumbuhan pelayanan ini. Kami percaya bahwa dukungan kecil yang lahir dari ketulusan dapat dipakai Tuhan untuk pekerjaan yang lebih luas. Informasi dukungan tersedia di bawah ini.
alt="Dukung Pelayanan VeritasInspirasi" style="max-width:220px;"/>Scan barcode PayPal di atas untuk mendukung pengembangan pelayanan dan karya di VeritasInspirasi.com.
.png)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar