Beny Takumau
Bagian Kedua
Panggilan
Jika pada bagian sebelumnya kita melihat bahwa keselamatan berakar pada pemilihan Allah sejak kekekalan, maka sekarang kita masuk ke tahap berikutnya dalam ordo salutis: panggilan.
Dalam bagian ini kita mulai melihat sesuatu yang penting. Pemilihan Allah bukan keputusan yang tinggal tersembunyi di dalam kekekalan. Apa yang Allah tetapkan, Ia juga kerjakan dalam sejarah hidup manusia. Dengan kata lain, orang yang dipilih tidak dibiarkan begitu saja; Allah sendiri bertindak memanggil mereka kepada keselamatan.
Inilah yang dalam teologi disebut panggilan.
Namun Alkitab menunjukkan bahwa tidak semua panggilan memiliki arti yang sama. Ada panggilan Injil yang didengar banyak orang, tetapi ada juga panggilan Allah yang secara nyata mengubah hati seseorang sehingga ia benar-benar datang kepada Kristus. Memahami perbedaan ini penting supaya kita tidak bingung ketika melihat kenyataan: Injil diberitakan luas, tetapi tidak semua orang percaya.
John Calvin pernah menulis:
“Firman diperdengarkan kepada banyak orang, tetapi hanya mereka yang oleh Roh Kudus diterangi yang sungguh-sungguh merespons dengan iman.”
Pernyataan ini menolong kita melihat bahwa masalahnya bukan pada Injil yang kurang kuat, melainkan pada kebutuhan akan pekerjaan Allah di dalam hati.
Paulus memberi gambaran kuat dalam Roma 8:30:
“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga yang dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga yang dibenarkan-Nya.”
Konteks Roma 8 berbicara tentang kepastian keselamatan orang percaya. Perhatikan urutannya: yang dipanggil pasti dibenarkan. Ini menunjukkan bahwa panggilan yang dimaksud di ayat ini bukan sekadar undangan umum, karena dalam kenyataannya tidak semua orang yang mendengar Injil dibenarkan. Panggilan di sini bersifat efektif — panggilan yang benar-benar membawa seseorang kepada iman.
Hal yang sama ditekankan oleh Louis Berkhof:
“Panggilan efektif adalah tindakan Allah yang tidak hanya mengundang manusia kepada keselamatan, tetapi juga secara pasti membawa mereka kepada respons yang menyelamatkan.”
Di bagian lain, Tuhan Yesus menjelaskan mengapa ada orang yang tetap tidak percaya meskipun sudah mendengar dan melihat banyak hal. Ia berkata:
“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku…”
(Yohanes 6:44)
Konteks Yohanes 6 sangat jelas. Banyak orang mengikuti Yesus setelah mukjizat roti, tetapi kemudian banyak juga yang mundur. Yesus tidak menjelaskan penolakan itu dengan alasan kurang bukti, tetapi dengan ketidakmampuan rohani manusia. Ia mengatakan “tidak dapat”, bukan sekadar “tidak mau”. Artinya, ada kebutuhan akan tindakan Allah yang lebih dalam dari sekadar pemberitaan luar.
Di sinilah kita mulai memahami bahwa panggilan keselamatan bukan hanya suara Injil yang terdengar di telinga, tetapi juga karya Allah di dalam hati.
Contoh yang sangat konkret terlihat dalam pertobatan Lidia:
“…Tuhan membuka hati Lidia, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.”
(Kisah Para Rasul 16:14)
Perhatikan urutannya dalam konteks. Paulus memberitakan Injil , itu panggilan eksternal. Tetapi Lukas menambahkan sesuatu yang sangat penting: Tuhan membuka hati Lidia. Hasilnya, ia sungguh-sungguh merespons. Narasi ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil dan pekerjaan Allah di dalam hati berjalan bersama.
Penjelasan yang seimbang pernah diungkapkan oleh Herman Bavinck:
“Dalam panggilan yang sejati, Allah tidak memaksa kehendak manusia, tetapi memperbaruinya sehingga manusia dengan sukarela datang kepada Kristus.”
Ini penting supaya kita tidak salah paham. Panggilan efektif bukan berarti manusia dipaksa seperti robot. Ketika Allah bekerja, manusia sungguh-sungguh percaya, sungguh-sungguh bertobat, dan sungguh-sungguh datang kepada Kristus. Respons itu nyata. Namun Alkitab juga jujur bahwa di balik respons itu ada karya Roh Kudus yang lebih dahulu membuka hati.
Hal yang sama juga ditegaskan Paulus ketika membandingkan dua kelompok pendengar Injil:
“tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.”
(1 Korintus 1:23–24)
Dalam konteks pasal ini, Paulus sedang menjelaskan mengapa Injil yang sama menghasilkan respons yang berbeda. Pesan yang diberitakan tidak berubah, tetapi hasilnya berbeda. Bagi sebagian orang, Kristus adalah batu sandungan; bagi yang lain, Ia adalah kuasa Allah.
Paulus sendiri memberikan kunci pembeda itu, yaitu frasa: “mereka yang dipanggil.” Ini menunjukkan bahwa ada pekerjaan Allah yang lebih dalam dari sekadar pendengaran lahiriah.
John Owen merangkum hal ini dengan tajam:
“Panggilan Injil dapat ditolak oleh telinga manusia, tetapi panggilan Roh Kudus membuka hati sehingga Kristus dipandang berharga.”
Sampai di sini kita perlu menjaga keseimbangan yang Alkitab ajarkan. Panggilan efektif tidak berarti manusia dipaksa seperti robot. Ketika Allah bekerja, manusia sungguh-sungguh percaya, sungguh-sungguh bertobat, dan sungguh-sungguh datang kepada Kristus.
Karena itu, panggilan adalah jembatan antara keputusan Allah dalam kekekalan dan pengalaman iman manusia dalam sejarah hidupnya. Apa yang Allah tetapkan dalam pemilihan, Ia realisasikan melalui panggilan Injil yang disertai pekerjaan Roh Kudus.
Memahami panggilan Allah bukan sekadar menambah pengetahuan teologis. Jika dipahami dengan benar, doktrin ini justru mengubah sikap hati orang percaya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari
πkita menjadi lebih rendah hati. Jika iman kita lahir bukan semata karena kepintaran atau kepekaan rohani kita, tetapi karena Allah lebih dahulu membuka hati, maka tidak ada ruang untuk membanggakan diri. Orang yg mengerti ini akan lebih mudah berkata dalam hatinya: Tuhan, Engkaulah yg menolong saya percaya.
Seperti yang pernah ditekankan Charles Spurgeon:
“Orang yang tahu bahwa ia diselamatkan oleh kasih karunia tidak akan berjalan dengan dada terangkat, tetapi dengan lutut yang bertelut.”
πkita memiliki penghiburan dalam pelayanan dan penginjilan. Tugas kita adalah setia memberitakan, sementara Allah yg bekerja membuka hati. Ini membuat kita tetap giat tetapi tdk putus asa.
π rasa syukur kita menjadi lebih dalam. Keselamatan tdk lagi terasa biasa, karena kita sadar Allah bukan hanya menyediakan jalan, tetapi juga memanggil kita secara pribadi.
π kita menjadi lebih sabar terhadap orang yg belum percaya. Kita sadar dulu kita pun membutuhkan karya Allah di hati. Ini menumbuhkan belas kasihan, bukan sikap merasa lebih rohani.
Akhirnya, doktrin ini menolong kita memiliki kepastian iman yg lebih kokoh. Jika Allah sendiri yg memanggil secara efektif, maka Ia juga sanggup memelihara umat-Nya sampai akhir.
Dengan demikian, panggilan Allah bukan hanya doktrin untuk diperdebatkan, tetapi kebenaran yg seharusnya merendahkan hati, menguatkan pengharapan, dan mengobarkan kesetiaan hidup orang percaya.
Dan sampai disini kita siap melangkah lebih dalam. Jika melalui panggilan Allah membuka hati manusia, maka pertanyaan berikutnya adalah: apa yg sebenarnya Allah kerjakan di dalam hati itu sendiri?
Pada bagian selanjutnya kita akan masuk ke tahap berikut dalam ordo salutis, yaitu kelahiran baru atau regenerasi.
Soli Deo Gloria


Tidak ada komentar:
Posting Komentar