Beny Takumau
Dalam beberapa hari terakhir, beredar luas kutipan pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang disampaikan dalam sebuah konferensi pers dan kemudian tersebar melalui berbagai media sosial. Pernyataan ini tidak hanya menimbulkan reaksi dari umat Kristen, tetapi juga dari masyarakat luas, termasuk pemeluk agama lain. Banyak orang membaca kutipan tersebut tanpa memahami konteks pembicaraan yang sedang disampaikan, sehingga muncul kesan seolah-olah Netanyahu sedang merendahkan Yesus Kristus secara langsung.
Dalam kutipan yang beredar luas itu, Netanyahu mengatakan:
“Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, maka kejahatan akan mengalahkan kebaikan.”
Sekilas pernyataan ini terdengar seperti perbandingan langsung antara Yesus dan Genghis Khan. Karena itu tidak sedikit orang memahami pernyataan ini sebagai bentuk merendahkan pribadi Kristus. Namun jika diperhatikan dalam kerangka pembicaraan politik yang sedang ia sampaikan, sebenarnya ia sedang menggambarkan sebuah realitas yang sering muncul dalam sejarah dunia: bahwa dalam logika kekuasaan politik, kekuatan militer sering tampak menentukan kemenangan.
Dengan kata lain, pernyataan tersebut bukan sedang menjelaskan siapa Yesus menurut iman Kristen, melainkan sedang menggambarkan bagaimana dunia politik sering bekerja menurut ukuran kekuatan.
Justru karena itulah pernyataan seperti ini perlu dipahami dengan hati-hati dalam terang kesaksian Kitab Suci.
Untuk memahami mengapa perbandingan ini menimbulkan reaksi luas, kita perlu melihat terlebih dahulu siapa Genghis Khan dalam sejarah dunia. Ia dikenal sebagai salah satu penakluk terbesar dalam sejarah manusia. Ia membangun Kekaisaran Mongol melalui ekspansi militer yang sangat luas dan melalui strategi peperangan yang keras. Dalam banyak catatan sejarah, keberhasilannya identik dengan kekuatan militer, ketegasan politik, dan kemampuan menaklukkan wilayah dalam skala besar. Dalam logika sejarah politik, kemenangan biasanya diukur melalui wilayah yang dikuasai, kekuatan militer yang dimiliki, dan pengaruh yang berhasil diperluas.
Namun ukuran seperti ini bukan ukuran yang dipakai oleh Injil ketika berbicara tentang kemenangan.
Sebaliknya, Yesus Kristus dalam kesaksian Kitab Suci tampil dengan cara yang sangat berbeda dari pola kepemimpinan para penakluk dunia. Bukan karena Ia tidak memiliki kuasa, tetapi justru karena Ia memiliki kuasa.
Ketika Petrus mencoba membela-Nya dengan pedang di taman Getsemani, Yesus berkata:
Matius 26:53
“Apakah kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa penangkapan Yesus bukan karena Ia tidak mampu melawan, melainkan karena Ia memilih untuk taat kepada rencana keselamatan Allah.
Pernyataan tentang “dua belas pasukan malaikat” bukanlah ungkapan biasa. Dalam konteks militer Romawi pada zaman itu, satu pasukan terdiri dari ribuan tentara. Artinya Yesus sedang menyatakan bahwa Ia memiliki otoritas untuk memanggil puluhan ribu bala tentara sorga.
Bahkan dalam Kitab Raja-raja, satu malaikat saja sudah cukup untuk mengalahkan satu pasukan manusia.
2 Raja-raja 19:35
Maka pada malam itu keluarlah Malaikat TUHAN, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka!
dicatat bahwa satu malaikat Tuhan memukul kalah 185.000 tentara Asyur dalam satu malam.
Ini menunjukkan bahwa jika Yesus memilih menggunakan kuasa-Nya, tidak ada kekuatan militer dunia yang dapat menandingi-Nya.
Dalam peristiwa penangkapan itu juga diceritakan bahwa ketika Yesus menyatakan diri-Nya, orang-orang yang datang menangkap-Nya mundur dan jatuh tersungkur ke tanah:
Yohanes 18:6
“Ketika Ia berkata kepada mereka: ‘Akulah Dia,’ mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.”
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Yesus tidak berada dalam posisi sebagai korban yang tidak berdaya. Ia menyerahkan diri-Nya secara sukarela.
Kesaksian Kitab Suci juga menunjukkan bahwa malaikat-malaikat berada di bawah otoritas Kristus. Setelah pencobaan di padang gurun tertulis bahwa malaikat-malaikat datang melayani Dia "
Matius 4:11
Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
Bahkan rasul Petrus menegaskan bahwa setelah kenaikan-Nya ke sorga, segala malaikat, kuasa, dan kekuatan telah ditaklukkan kepada-Nya
"1 Petrus 3:22
yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya."
Karena itu jelas bahwa Yesus tidak berjalan menuju salib karena Ia tidak memiliki kuasa untuk menghindarinya. Ia berjalan menuju salib karena Ia memilih untuk menanggungnya.
Namun di sisi lain, penting juga dipahami bahwa Alkitab tidak menutup mata terhadap realitas peperangan dalam sejarah umat Allah.
Dalam Perjanjian Lama, ada masa ketika kekuatan militer dipakai dalam perjalanan bangsa Israel. Penaklukan tanah Kanaan bukan sekadar ambisi politik, tetapi bagian dari proses pembentukan bangsa Israel sebagai umat perjanjian. Demikian juga kerajaan Babel pernah dipakai Tuhan sebagai alat penghukuman atas Israel ketika bangsa itu menyimpang dari perjanjian. Dalam kitab Yeremia, Babel bahkan disebut sebagai alat di tangan Tuhan untuk melaksanakan rencana-Nya.
Ini menunjukkan bahwa dalam sejarah Perjanjian Lama, kekuatan militer kadang dipakai sebagai sarana dalam menjalankan rencana Allah. Tetapi kekuatan militer dalam Alkitab bukan tujuan akhir. Itu hanyalah bagian dari sejarah penebusan.
Mazmur 20:8 mengatakan:
“Sebagian memegahkan kereta dan sebagian memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama Tuhan, Allah kita.”
Ketika kita masuk ke Perjanjian Baru, arah rencana keselamatan Allah menjadi semakin jelas. Yesus sendiri berkata:
“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.”
Yohanes 18:36
Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."
Ketika Petrus menggunakan pedang untuk membela-Nya, Yesus berkata:
“Semua orang yang menggunakan pedang akan binasa oleh pedang.”
Matius 26:52
Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.
Nabi Yesaya bahkan telah menubuatkan sebelumnya:
“Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita.”
Yesaya 53:5
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
Ini adalah gambaran Mesias yang menderita, bukan Mesias penakluk.
Di sinilah letak perbedaan besar antara cara dunia memahami kemenangan dan cara Injil menyatakan kemenangan. Genghis Khan membangun kerajaan melalui penaklukan wilayah. Yesus membangun kerajaan melalui pengorbanan diri. Genghis Khan memperluas kekuasaan politik. Yesus membuka jalan keselamatan bagi manusia.
Karena itu jika Yesus diukur dengan ukuran kekuatan militer, maka ukuran itu sejak awal memang tidak tepat.
Sebaliknya, pernyataan seperti yang disampaikan oleh Netanyahu justru mengingatkan kita kembali bahwa sejak awal jalan Kristus memang bukan jalan kekuasaan dunia. Rasul Paulus menulis:
1 Korintus 1:18
“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”
Karena itu respons orang Kristen seharusnya tidak berhenti pada rasa tersinggung. Respons kita adalah kembali kepada kesaksian Injil.
Keselamatan tidak datang melalui kekuatan militer.
Tidak datang melalui strategi perang.
Tidak datang melalui kekuasaan politik.
Keselamatan hanya datang melalui iman kepada Yesus Kristus.
Bahkan tokoh-tokoh besar dunia seperti Benjamin Netanyahu, Donald Trump, Ali Khamenei, bahkan Genghis Khan sekalipun, tidak diselamatkan oleh kekuatan, strategi perang, atau pengaruh mereka. Setiap manusia memiliki kebutuhan yang sama di hadapan Allah.
Jika jiwa seseorang mau diselamatkan, maka ia harus percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
Sebab masalah terbesar manusia bukan soal kuat atau lemah secara politik, bukan soal negaranya aman atau tidak aman, bukan soal berkuasa atau tidak berkuasa. Masalah terbesar manusia adalah dosa yang memisahkan manusia dari Allah.
Yesus sendiri berkata:
Matius 16:26
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”
Artinya, sebesar apa pun kekuasaan seseorang, sebesar apa pun keberhasilannya dalam sejarah dunia, semuanya tidak dapat menyelamatkan jiwanya.
Karena itu keselamatan tidak ditentukan oleh kekuatan militer.
Tidak ditentukan oleh strategi politik.
Tidak ditentukan oleh pengaruh dunia.
Keselamatan hanya ditentukan oleh iman kepada Kristus.
Dan bertepatan dengan momen gereja merayakan Minggu Sengsara, kita kembali diingatkan bahwa Yesus tidak mati karena kalah oleh manusia.
Ia mati karena mengasihi manusia.
Ia menjadi korban pengganti kita.
Ia menanggung hukuman kita.
Ia membuka jalan keselamatan bagi kita.
Karena itu respons kita bukan "sekadar" menilai pernyataan siapa pun tentang Yesus.
Respons kita adalah datang kepada Yesus.
Percaya kepada-Nya.
Menerima Dia sebagai Juruselamat.
Sebab kemenangan terbesar dalam sejarah bukan terjadi di medan perang.
Kemenangan terbesar terjadi di kayu salib.
Dan kemenangan itu diberikan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
SOLI DEO GLORIA


Tidak ada komentar:
Posting Komentar