Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Harrison Okene;Selamat setelah tenggelam bersama Kapal Tiga hari di dasar laut

Selasa, 13 Januari 2026 | Januari 13, 2026 WIB Last Updated 2026-01-13T17:29:55Z


Foto Harrison Okene 


Beny Takumau 


Pada 26 Mei 2013, Harrison Okene, seorang juru masak kapal asal Nigeria, sedang bekerja di kapal penarik Jascon-4 di perairan Teluk Guinea. Tanpa peringatan panjang, kapal tersebut dihantam gelombang besar, kehilangan keseimbangan, lalu terbalik dan tenggelam hingga kedalaman sekitar 30 meter. Sebagian besar awak kapal tewas seketika.



Harrison, yg saat itu berada di kamar mandi, terlempar bersama derasnya air laut. Dalam kegelapan total dan kepanikan, ia berenang mengikuti naluri hingga akhirnya masuk ke sebuah ruangan kapal yg terendam sebagian. Air laut telah masuk, tetapi tidak memenuhi seluruh ruangan karena tekanan air dan udara mencapai keseimbangan. Di bagian atas ruangan itu masih tersisa udara terperangkap.



Dalam kondisi itulah Harrison bertahan. Ia sempat berenang keluar dari ruangan tersebut untuk mencari kemungkinan jalan keluar dan menemukan ikan kaleng, yg kemudian ia bawa kembali ke ruangan tempat udara tersisa. Ia makan secukupnya, lalu kembali berdiri di air laut setinggi dada, menjaga agar kepalanya tetap berada di ruang berudara.



Selama hampir 60 jam, Harrison hidup tanpa kepastian. Ia tdk tahu apakah regu penyelamat akan datang atau tidak. Ia hanya tahu satu hal: jika ia berhenti bertahan, hidupnya akan berakhir. Udara makin menipis, tubuhnya menggigil, pikirannya tertekan oleh sunyi dan gelap. Ia bertahan bukan karena tahu akhir cerita, tetapi karena ia memilih hidup satu jam lagi, lalu satu jam berikutnya.



Pada hari ketiga, Regu tim penyelam datang untuk mengevakuasi jasad korban. Dalam kondisi seperti ini, kapal tenggelam di dasar laut hampir tiga hari,Regu penyelam tdk datang untuk menyelamatkan awak kapal yg tenggelam tetapi mereka datang untuk mengevakuasi jasad para awak kapal.



Ketika seorang penyelam melihat gerakan tangan di dalam bangkai kapal, ia terkejut,Harrison Okene masih hidup. Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati, dan Harrison harus menjalani dekompresi sebelum akhirnya benar-benar selamat.

Foto ketika saat harrison pertama kali di temukan dalam kapal



Setelah menonton kisah ini di sebuah postingan di Facebook

👉 https://www.facebook.com/share/v/16bx639yGn/



saya menyadari bahwa kisah Harrison Okene bukan sekadar cerita bertahan hidup, tetapi gambaran manusia yg hidup di tengah ketidakpastian total,hidup tanpa tahu kapan pertolongan datang, atau apakah pertolongan itu tidak akan  datang sama sekali.


⚓⚓⚓




Pengalaman Harrison mengingatkan saya pada Kisah Ayub dalam Alkitab. Dalam penderitaannya, Ayub bukan hanya kehilangan keluarga, tetapi juga kehilangan "penjelasan". Ia berdebat dengan Tuhan, mempertanyakan keadilan-Nya, menuntut jawaban atas penderitaannya. Namun ketika Tuhan akhirnya menjawab, yg diberikan bukan penjelasan sebab-akibat.




Alih-alih menjelaskan penderitaan Ayub, Tuhan menyingkap tatanan ciptaan. Ia berbicara tentang bumi, laut, terang, hujan, binatang liar, dan hukum-hukum alam,hal-hal yg sepenuhnya berada di luar kendali manusia.

Tuhan Allah menjawab Ayub:

“Siapakah yg telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim?”

(Ayub 38:8, )

Bagian ini dipahami sebagai penegasan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemelihara . Tuhan sedang menggeser Ayub dari pusat tafsir dirinya sendiri kepada pusat realitas yg sesungguhnya: Allah yg berdaulat atas segala sesuatu, termasuk penderitaan yg tdk dimengerti manusia.

Ayub akhirnya sadar bahwa persoalannya bukan kurangnya jawaban, tetapi keberaniannya menempatkan dirinya seolah-olah setara dengan Allah. Maka ia berkata:

Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yg dapat kuberi kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tanganku.”

(Ayub 40:4)

Puncaknya terjadi di pasal 42. Ayub tdk menerima penjelasan logis tentang penderitaannya, tetapi ia menerima pengenalan yg lebih dalam tentang Allah:

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yg gagal.”

(Ayub 42:2)

Dan pengakuan yg paling penting:

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

(Ayub 42:5)

Di sinilah pemulihan Ayub terjadi,bukan ketika misteri penderitaan dijelaskan, tetapi ketika ia berhenti menuntut jawaban dan mulai berserah kepada Pribadi yg berdaulat.





Makna bagi Kita

Di titik ini, kisah Harrison Okene dan Ayub bertemu. Harrison bertahan tanpa mengetahui kapan regu penyelamat datang. Ayub bertahan tanpa mengetahui mengapa penderitaan itu datang. Keduanya hidup di dalam ketidakpastian yg sama.

Namun iman, dalam pengertian alkitabiah , bukanlah ketenangan karena mengetahui masa depan, melainkan ketekunan karena Allah tetap Allah, meski kita berada di ruang sempit, gelap, dan hampir kehabisan napas




Seperti Ayub, kita mungkin tdk diberi alasan. Seperti Harrison, kita mungkin tdk tahu kapan pertolongan datang. Tetapi selama Allah berdaulat, hidup tdk berada di karna kebetulan,Tetapi semua atas rancangan dan ketetapan Allah 



Dan di sanalah iman diuji,bukan saat jawaban datang, tetapi ketika kita diminta tetap hidup tanpa jawaban, sambil percaya bahwa Sang Pencipta laut dan daratan tetap memegang kendali, bahkan ketika kita hanya bisa bertahan satu napas lagi.




Kita kini telah berada di pertengahan bulan pertama tahun 2026. Kiranya kisah yg kami bagikan berkenan menjadi bekal dalam perjalanan iman kita sepanjang tahun ini, terutama manakala kita dihadapkan pada situasi-situasi yang serupa dengan kisah di atas, dalam konteks kehidupan kita masing-masing.

Salam hangat dari penulis.


SOLI DEO GLORIA 


Foto keluarga Harrison Okene 

×
Berita Terbaru Update