Beny Takumau
Bagian Ketiga
KELAHIRAN BARU (REGENERATION)
Dalam pembahasan tentang ordo salutis (urutan karya keselamatan), kita sedang melihat bagaimana Alkitab menggambarkan pekerjaan Allah ketika Ia membawa manusia kepada keselamatan.
Sampai pada bagian ini kita sudah melihat dua tahap sebelumnya.
Pertama, kita telah membahas tentang pemilihan Allah. Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan tidak dimulai dari keputusan manusia, tetapi dari keputusan Allah dalam kekekalan. Allah memilih oleh kasih karunia-Nya, bukan karena jasa atau usaha manusia.
Kedua, kita telah melihat tentang panggilan Injil. Apa yang Allah tetapkan dalam pemilihan itu kemudian dinyatakan dalam sejarah hidup manusia melalui pemberitaan Injil. Injil diberitakan kepada manusia, dan melalui firman itu Allah memanggil manusia untuk datang kepada Kristus.
Namun pada titik ini muncul satu pertanyaan yang sangat penting.
Jika Injil sudah diberitakan dan manusia mendengarnya, apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati seseorang sehingga ia akhirnya percaya? Mengapa ada orang yang mendengar Injil tetapi tetap menolak, sementara yang lain justru datang kepada Kristus dengan iman?
Untuk menjawab pertanyaan inilah kita masuk ke tahap ketiga dalam ordo salutis, yaitu kelahiran baru atau regenerasi.
Kelahiran baru menjelaskan perubahan yang Allah kerjakan di dalam hati manusia. Jika melalui panggilan Allah membuka hati manusia, maka melalui kelahiran baru Ia memberikan kehidupan rohani yang baru.
Alkitab menggambarkan perubahan ini bukan sekadar perbaikan moral atau perubahan perilaku, tetapi sebagai kelahiran yang baru.
Yesus menjelaskan hal ini dengan sangat jelas ketika berbicara kepada Nikodemus:
“Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
(Yohanes 3:3)
Perhatikan kata yg dipakai Yesus: tidak dapat melihat. Bukan hanya tidak masuk, tetapi bahkan tidak dapat melihat. Artinya, tanpa kelahiran baru manusia tidak memiliki kemampuan rohani untuk memahami realitas Kerajaan Allah.
Nikodemus sendiri adalah seorang pemimpin agama dan guru Israel. Ia sangat terpelajar dalam hukum Taurat. Namun ketika Yesus berbicara tentang kelahiran baru, ia justru kebingungan.
Ia berpikir secara lahiriah:
“Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?”
Namun Yesus sedang berbicara tentang sesuatu yg jauh lebih dalam daripada kelahiran fisik.
“Yesus menjawab: Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yg dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yg dilahirkan dari Roh adalah roh.”
(Yohanes 3:5–6)
Di sini Yesus menunjukkan bahwa ada dua jenis kelahiran: kelahiran dari daging dan kelahiran dari Roh. Kelahiran pertama memberi kita hidup biologis. Kelahiran kedua memberi kita hidup rohani.
Karena itu kelahiran baru bukan sekadar keputusan manusia untuk menjadi lebih baik. Ia adalah pekerjaan Roh Kudus yg memberi hidup rohani kepada hati yg sebelumnya mati.
Paulus menggambarkan kondisi manusia sebelum karya ini terjadi dengan sangat jujur:
“Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.”
(Efesus 2:1)
Kata mati di sini bukan sekadar ungkapan puitis. Paulus sengaja memakai istilah yang sangat kuat untuk menggambarkan kondisi rohani manusia tanpa anugerah Allah.
Untuk menolong kita memahami hal ini, coba pikirkan gambaran ini; seseorang yang sudah benar-benar mati secara fisik. Jika di hadapannya diletakkan makanan yang sangat lezat, ia tidak akan memberikan respons apa pun.
Sekalipun makanan itu adalah daging babi bakar yang aromanya sangat menggugah selera, orang yang sudah mati tidak akan bangun untuk memakannya. Bukan karena ia tidak mau, tetapi karena ia tidak mampu merespons.
Masalahnya bukan pada makanannya. Masalahnya ada pada kondisinya yang sudah mati.
Demikian juga dengan manusia dalam keadaan dosa. Injil diberitakan dengan jelas. Keindahan Kristus diproklamasikan. Namun hati manusia tidak merespons sebagaimana seharusnya, karena secara rohani ia berada dalam keadaan mati.
Karena itu yang dibutuhkan bukan sekadar nasihat moral atau ajakan religius. Yang dibutuhkan adalah kehidupan rohani yang baru.
Di sinilah pekerjaan Roh Kudus menjadi mutlak diperlukan.
John Calvin seorang Tokoh penting Reformasi menjelaskan hal ini dengan sangat tajam:
“Selama Roh Kudus tidak mengubah hati manusia, firman Allah hanya terdengar di telinga, tetapi tidak pernah menembus ke dalam hati.”
Alkitab sendiri memberi gambaran yang sangat kuat tentang hal ini melalui kisah Lazarus.
Ketika Lazarus mati, ia sudah berada di dalam kubur selama empat hari. Tidak ada tanda kehidupan. Tidak ada respons. Semua orang tahu bahwa ia sudah benar-benar mati.
Namun ketika Yesus berdiri di depan kubur itu, Ia berseru:
“Lazarus, marilah keluar!”
(Yohanes 11:43)
Dan sesuatu yang luar biasa terjadi. Lazarus yang sudah mati itu keluar dari kuburnya.
Perhatikan urutannya. Lazarus tidak lebih dahulu bergerak lalu hidup. Ia hidup karena kuasa Kristus memanggilnya.
Perintah Yesus sendiri memberi kehidupan yang memampukannya untuk merespons.
Gambaran ini menolong kita memahami bagaimana Allah bekerja dalam keselamatan. Manusia yang mati secara rohani tidak mampu lebih dahulu menghasilkan hidup rohani dari dirinya sendiri. Tetapi ketika Allah bekerja melalui Roh Kudus, hidup itu diberikan, dan barulah manusia merespons dengan iman.
Alkitab memberi gambaran lain yang sangat mendasar melalui kisah penciptaan.
Pada awalnya bumi belum berbentuk dan kosong, dan kegelapan menutupi samudera raya.
Lalu Allah berfirman:
“Jadilah terang.”
(Kejadian 1:3)
Dan terang itu pun jadi.
Terang tidak muncul karena dunia lebih dahulu berusaha menjadi terang. Terang ada karena firman Allah menciptakan terang itu.
Prinsip yang sama dipakai Paulus ketika berbicara tentang keselamatan:
“Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang,’ Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita.”
(2 Korintus 4:6)
Dengan kata lain, kelahiran baru adalah tindakan penciptaan rohani. Allah yang sama yang menciptakan terang dari kegelapan juga menciptakan hidup rohani dalam hati manusia.
Ketika terang itu diberikan, barulah seseorang mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak ia lihat.
Ia mulai melihat dosa dengan cara yang baru. Ia mulai melihat keindahan Kristus dengan cara yang baru. Ia mulai melihat keselamatan sebagai anugerah Allah yang sangat berharga.
Jonathan Edwards pernah menggambarkan hal ini dengan indah:
“Ketika Roh Kudus membuka hati, keindahan Kristus yang sebelumnya tersembunyi menjadi nyata bagi jiwa manusia.”
Itulah sebabnya kelahiran baru tidak hanya menghasilkan pengakuan iman secara intelektual, tetapi juga perubahan arah hidup.
Orang yang dilahirkan kembali mulai memiliki kerinduan yang baru: kerinduan untuk mengenal Allah, kerinduan untuk hidup benar, dan kerinduan untuk meninggalkan dosa.
Jika kita memahami kebenaran ini dengan benar, seharusnya hidup kita dipenuhi oleh rasa syukur yang dalam.
Sebab iman kita bukan hanya hasil usaha kita sendiri. Allah bukan hanya menyediakan jalan keselamatan, tetapi juga memberi hidup rohani sehingga kita dapat melihat dan merespons Injil.
Karena itu tidak ada ruang untuk kesombongan rohani. Sebaliknya, hidup orang percaya seharusnya semakin memuliakan Tuhan, karena kita sadar bahwa keselamatan adalah karya kasih karunia dari awal sampai akhir.
Namun sering muncul beberapa keberatan terhadap doktrin ini.
Salah satu keberatan yang sering diajukan adalah:
jika kelahiran baru adalah pekerjaan Roh Kudus, apakah itu berarti manusia menjadi pasif? Apakah itu tidak membuat orang malas menginjil?
Pertanyaan ini sebenarnya muncul dari kesalahpahaman.
Alkitab justru menunjukkan bahwa Allah yang menetapkan keselamatan juga menetapkan cara bagaimana keselamatan itu diberitakan, yaitu melalui Injil.
Rasul Paulus berkata:
“Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
(Roma 10:17)
Artinya, pemberitaan Injil tetap sangat penting. Allah memakai pemberitaan Injil sebagai sarana yang melaluinya Roh Kudus bekerja membuka hati manusia.
Selain itu, kita juga tidak pernah tahu siapa yang dipilih oleh Allah.
Karena itu tugas kita bukan menebak siapa yang dipilih. Tugas kita adalah setia memberitakan Injil kepada semua orang.
Justru keyakinan bahwa Allah bekerja di dalam hati manusia memberi keberanian dan penghiburan dalam penginjilan. Kita memberitakan Injil dengan setia, tetapi kita juga tahu bahwa pada akhirnya Allah sendirilah yang sanggup mengubah hati manusia.
Karena itu doktrin kelahiran baru tidak membuat orang percaya menjadi pasif. Sebaliknya, doktrin ini justru membuat kita lebih rendah hati, lebih bergantung kepada Tuhan, dan lebih setia dalam memberitakan Injil.
Akhirnya kita kembali melihat bahwa keselamatan bukan hanya doktrin untuk diperdebatkan, tetapi kebenaran yang seharusnya merendahkan hati dan memuliakan Allah.
Apa yang sebelumnya mati kini hidup.
Apa yang sebelumnya gelap kini diterangi.
Apa yang sebelumnya menolak kini mulai percaya.
Dan dari kehidupan baru inilah iman kepada Kristus mulai bertumbuh.
Karena itu setelah kelahiran baru kita akan melihat tahap berikut dalam ordo salutis, yaitu iman dan pertobatan.
Di bagian selanjutnya kita akan melihat bagaimana kehidupan baru yang dikerjakan Roh Kudus itu menghasilkan respons manusia yang nyata: percaya kepada Kristus dan berbalik dari dosa.
Soli Deo Gloria.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar